Dari 2.500 Karyawan Tinggal 10 Persen! PHK Massal di Tokopedia: Ketika Talenta Indonesia Dikorbankan demi Efisiensi China
JAKARTA – Gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) kembali menghantam dunia teknologi Tanah Air. Kali ini, giliran pekerja Tokopedia yang menjadi korban. Dalam kebijakan yang mengejutkan, TikTok melalui induk usahanya, ByteDance, merumahkan lebih dari 450 karyawan di unit teknologi pada gelombang terakhir. Total, sejak akuisisi, sekitar 90 persen dari 2.500 karyawan Tokopedia telah kehilangan pekerjaan.
Yang paling memilukan adalah nasib divisi teknologi. Dari 1.100 insan teknologi yang dulu menjadi tulang punggung platform e-commerce kebanggaan Indonesia, kini hanya tersisa 35 orang. Sisanya? Mereka harus angkat kaki dari kantor yang dulu menjadi tempat mereka membangun karier.
"Dulu sebelum diambil ByteDance, tech-nya 1.100 orang. Dalam batch terakhir, tech 500-an kena PHK. Sekarang tech cuma sisa 35 orang," ujar seorang narasumber kepada CNBC Indonesia, dengan nada prihatin.
Lebih menyakitkan lagi, narasumber lain mengungkapkan bahwa seluruh kendali teknologi Tokopedia kini sepenuhnya dipegang oleh karyawan ByteDance di China. Padahal, saat akuisisi pertama kali dilakukan, pihak TikTok sempat berjanji akan "co-exist" dan ingin "membantu talenta Indonesia" berkembang.
"Sekarang, semua yang pegang teknologi Tokopedia sudah bukan di Indonesia lagi. Semua di China," keluh narasumber tersebut. Sebuah realita pahit yang bertolak belakang dengan janji awal.
Juru Bicara TikTok membenarkan adanya PHK ini. Dalam keterangan resminya, mereka menyebut langkah tersebut sebagai bagian dari "penyelarasan organisasi riset dan pengembangan (R&D)" untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang. Namun, di balik frasa manajemen yang halus itu, nyawa ribuan pekerja dan keluarganya terpental ke jalan.
Akuisisi Tokopedia oleh TikTok sendiri terjadi pada Januari 2024, setelah pemerintah Indonesia melarang TikTok beroperasi sebagai platform e-commerce karena isu monopoli. Kala itu, GoTo menjual 75 persen saham Tokopedia ke ByteDance, dan hanya menyisakan 24,99 persen saham untuk GoTo.
Meskipun GoTo masih menerima imbalan jasa mencapai Rp820 miliar pada 2025, angka itu tak mampu menghapus pilu para pekerja yang kehilangan mata pencaharian. Ironisnya, di sisi lain, TikTok Shop justru mencatat lonjakan GMV lebih dari dua kali lipat dan menjadi bintang baru di Asia Tenggara dengan nilai US$45,6 miliar. Sementara itu, Tokopedia justru terpuruk di posisi terbawah dengan GMV hanya US$9 miliar.
Lantas, ke mana nasib para pekerja yang sudah setia membangun Tokopedia? Mereka kini harus berjuang mencari kerja di tengah ketatnya pasar tenaga kerja, sementara perusahaan yang dulu mereka banggakan perlahan kehilangan jati diri sebagai perusahaan teknologi Indonesia.
PHK massal ini bukan sekadar angka. Di balik setiap nomor induk karyawan yang dicabut, ada keluarga yang kehilangan sumber penghasilan, ada mimpi yang kandas, dan ada janji-janji manis investasi yang berujung pengkhianatan.
Publik kini menunggu sikap tegas pemerintah, khususnya Kementerian Ketenagakerjaan dan Kementerian Komunikasi dan Digital, untuk memastikan apakah perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia masih memiliki rasa tanggung jawab sosial terhadap tenaga kerja lokal, ataukah hanya sekadar memanfaatkan pasar lalu pergi setelah keuntungan diraih.
Karena yang dipertaruhkan bukan sekadar efisiensi bisnis, tapi nyawa dan masa depan ribuan anak bangsa.
Artikel ini dikutip dari CNBCindonesia




Post a Comment