Header Ads

 

Dua Bocah Mendapat Pelecehan Seksual

MEDANTERKINI.COM - Dua bocah katakan saja Bunga umur 15 thn dan Si Mawar umur 12 tahun (keduanya nama samaran) adalah anak dari keluarga "broken home" karena ayah bundanya sudah berpisah sejak setahun yang lalu.

Sang ibu kembali ke rumah orangtuanya dan untuk menutupi kebutuhan sehari-hari,  Ibu boru H itu bekerja sebagai buruh harian pada ladang milik bermarga "Stp".

Awalnya sang anak sering berkunjung ke ladang tempat Ibunya bekerja sekedar bermain karena memang jarak ladang tersebut cukup dekat dari rumah Nenek, tempat mereka tinggal.

Hanya hitungan bulan, sang juragan yang  mantan Sintua itu, meminta kepada sang Ibu supaya kedua anaknya diberikan untuk diasuh serta disekolahkan.

Himpitan ekonomi dan karena penghasilan yang tak jelas, menjadi pertimbangan utama bagi sang Ibu sehingga dengan berat hati menyerahkan dua orang anaknya untuk diasuh oleh juragan ladang dan tambah percaya karena Isterinya setuju dan dinilai sangat  sangat mampu untuk menyekolahkan anaknya mengingat istri juragan tersebut seorang PNS, sebagai Kepala Sekolah di salah satu SD Negeri yang ada di wilayah Kecamatan tersebut.

Dilatari rasa percaya, sang Ibu akhirnya pergi mengadu nasib ke kota "S" dan minimal sekali dua minggu, sang Ibu pulang untuk menjenguk anak-anaknya, namun bulan September yang lalu, betapa terkejutnya sang Ibu mendengar cerita polos dari anaknya yang paling kecil (4thn) perihal perlakuan Lelaki yang sudah dianggapnya sebagai orangtuanya, karena ternyata lelaki itu sering mengajak anak anak itu menonton Film Blue.

"Mereka sering menonton film yang berpelukan dan berpacaran Ma," sebut ibu korban menirukan laporan anaknya

Serasa disambar letir, Ibu itu langsung lemas hampir lunglai mendengar pengakuan korban saat diinterogasi bahwa anaknya telah dilecehkan tetapi ibu tersebut berusaha untuk tetap tegar dan langsung mendatangi keluarga pelaku. Keluarga terduga pelaku pada akhirnya mengajak berdamai tapi ditolak.

"Mereka menjanjikan uang 20 juta sebagai bentuk perdamaian, tapi kami tolak pak," beber ibu anak itu saat wargawan mendatangi rumah mereka beberapa waktu lalu

"Tanggal 19 September itu sudah langsung kami laporkan ke Polres Taput dan melalukan visum, namun pihak jawaban dari polres menyebut tidak cukup bukti. Padahal hasil visum tersebut tidak dikasih tunjuk kepada kami," lanjut Ibu korban memberi penjelasan

Pasca dilaporkan ke Polres, terduga pelaku tidak pernah kelihatan dikampung halamannya, dan saat wartawan mencoba rumah pelaku, rumah tersebut dalam keadaan kosong.

Informasi yang penulis peroleh dari Komisioner  Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAID) menyebutkan: "Kami sudah mengetahui kasus tersebut, namun karena ketiadaan dana  jadi belum bisa mengambil tindakan," sebut Edy Simatupang, melalui percakapan via telpon.

Sumber : http://pelitabatak.com

Comments
0 Comments

Tidak ada komentar